Hargorejo – Forum Perempuan Hargorejo binaan Mitra Wacana Yogyakarta menggelar pertemuan rutin di Perpustakaan Swa Pustaka Hargorejo pada Senin, 14 September 2026. Pertemuan tersebut dipandu oleh Muhammad Mansur dengan mengangkat pembahasan mengenai kesehatan jiwa remaja, tantangan media sosial, serta peran orang tua dan kader dalam mendeteksi dan mendampingi anak yang mengalami tekanan di era digital.
Materi yang disampaikan menggunakan pendekatan “Kotak P3K Jiwa Remaja di Era Digital”, yaitu panduan praktis untuk memahami, mendeteksi, dan melindungi anak dari krisis yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan penggunaan media digital. Pembahasan diawali dengan kondisi remaja yang saat ini hidup dalam dua dunia, yakni dunia nyata dan dunia maya.
Di dunia nyata, anak berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya dan melihat secara langsung kondisi teman-temannya. Sementara itu, di dunia maya, mereka dihadapkan pada gambaran kehidupan orang lain yang telah dikurasi, diedit, dan difilter. Kondisi tersebut dapat memicu kebiasaan membandingkan diri, rasa takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out), hingga tekanan untuk memenuhi standar sosial yang sebenarnya tidak selalu realistis.
Pertemuan juga membahas karakteristik otak remaja yang masih berkembang. Kemampuan berpikir logis dan mempertimbangkan dampak jangka panjang belum sepenuhnya matang, sementara kebutuhan akan penerimaan dari teman sebaya sangat kuat. Kondisi tersebut membuat remaja lebih rentan mengalami tekanan ketika menghadapi penolakan, perundungan, maupun persoalan mengenai penerimaan sosial.
Salah satu perhatian utama dalam materi adalah cyberbullying. Berbeda dengan perundungan yang terjadi secara langsung, cyberbullying dapat berlangsung selama 24 jam dan menembus ruang pribadi anak, termasuk hingga ke kamar tidur. Jejak digital juga dapat membuat tekanan tersebut terasa terus-menerus. Ancaman yang dirasakan anak kemudian dapat membuat sistem tubuh berada dalam kondisi siaga berkepanjangan atau hyperarousal, sehingga energi mental terkuras dan berpotensi memperburuk kondisi psikologis.
Untuk membantu kader mengenali kondisi tersebut, pemateri memperkenalkan tiga pilar pengamatan. Pilar pertama berkaitan dengan tanda trauma dan stres akut, seperti tubuh menegang ketika menerima notifikasi atau melihat layar ponsel, keluhan fisik tanpa penyebab medis yang jelas, respons membeku ketika membicarakan persoalan pertemanan, serta kewaspadaan berlebihan.
Pilar kedua adalah mendeteksi minder kronis atau inferioritas, yang dapat terlihat melalui kebiasaan menyembunyikan penampilan, bahasa tubuh yang tertutup, menghindari kontak mata, menolak pujian, hingga kebiasaan mengejek diri sendiri sebagai bentuk perlindungan dari kemungkinan ejekan orang lain.
Sementara itu, pilar ketiga berkaitan dengan krisis identitas dan taktik jebakan perasaan. Dalam kondisi tertentu, remaja dapat menggunakan tekanan emosional kepada orang tua, misalnya dengan mengaitkan kepemilikan barang tertentu seperti ponsel atau sepatu dengan penerimaan teman dan ancaman untuk tidak bersekolah. Materi menekankan bahwa perilaku tersebut perlu dipahami dalam konteks kebutuhan remaja terhadap validasi dan rasa diterima, tanpa berarti membenarkan perilaku mengancam atau manipulatif.
Forum juga diperkenalkan dengan Matriks Evaluasi 3-P, yakni Perubahan, Persistensi, dan Pengaruh. Kader diajak memperhatikan apakah perubahan perilaku muncul secara mendadak, berlangsung terus-menerus selama lebih dari dua minggu, serta sudah memengaruhi fungsi dasar anak seperti sekolah, makan, kebersihan diri, dan interaksi sosial.
Dalam menghadapi remaja yang sedang mengalami tekanan, pemateri memperkenalkan teknik V-B-P: Validasi, Batasan, dan Pilihan. Validasi dilakukan dengan mengakui perasaan anak tanpa harus menyetujui perilaku yang salah. Batasan diperlukan untuk menjaga perilaku tetap aman dan sehat, sedangkan pemberian pilihan membantu mengembalikan rasa memiliki kendali kepada remaja.
Pendekatan tersebut juga perlu didukung dengan bahasa tubuh yang menenangkan. Kader maupun orang tua dianjurkan berbicara dalam posisi sejajar dengan anak, menggunakan postur terbuka, serta memberikan jeda beberapa detik sebelum merespons ketika suasana sedang emosional. Dengan demikian, respons yang diberikan tidak justru memperbesar konflik.
Selain penanganan, pencegahan juga menjadi bagian penting dalam materi. Salah satunya melalui penerapan zona bebas layar yang disepakati bersama, bukan semata-mata dengan menyita ponsel secara tiba-tiba. Orang tua juga diingatkan untuk menjadi teladan dalam penggunaan gawai karena aturan akan lebih mudah diterima apabila orang dewasa di sekitarnya juga menerapkannya.
Upaya membangun identitas remaja di dunia nyata turut ditekankan. Anak perlu diberi ruang untuk mengembangkan keterampilan melalui olahraga, seni, memasak, maupun aktivitas produktif lainnya. Keterlibatan dalam komunitas seperti kegiatan lingkungan, kepanitiaan, maupun aktivitas sosial juga dapat membantu menumbuhkan rasa memiliki dan perasaan bahwa dirinya dibutuhkan oleh lingkungan.
Pada bagian akhir, peserta diajak mengenali empat lampu merah yang menjadi batas aman bagi kader untuk menghentikan intervensi secara mandiri dan segera mencari bantuan profesional. Tanda tersebut antara lain perilaku menyakiti diri atau adanya niat bunuh diri, gejala depresi berat, kekerasan seksual atau eksploitasi daring, serta agresi ekstrem yang membahayakan diri maupun orang lain. Rujukan yang disebutkan dalam materi meliputi puskesmas terdekat, layanan psikolog klinis melalui BPJS, P2TP2A, dan SAPA.
Melalui pertemuan rutin ini, Forum Perempuan Hargorejo diharapkan semakin memiliki pemahaman dan kepekaan dalam melihat perubahan perilaku remaja di lingkungan sekitar. Pendampingan tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah membesar, tetapi perlu dimulai dari kemampuan mengamati, mendengarkan, membangun komunikasi yang aman, serta mengetahui kapan kondisi anak membutuhkan bantuan profesional. Penguatan kapasitas perempuan dan kader di tingkat masyarakat menjadi penting agar lingkungan terdekat mampu menjadi ruang yang aman bagi anak untuk tumbuh, berkembang, dan menghadapi tantangan era digital.
Penulis: Ajru F.
Editor: Fitriana