Warga Padukuhan Selo Barat menggelar tradisi kepungan atau baritan dalam rangka memperingati datangnya bulan Ruwah, Minggu (8/2/2026). Acara yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB ini dipusatkan di serambi Masjid Gede Selo Ngalogo dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, Dukuh Selo Barat, serta jamaah masjid setempat.
Suasana khidmat menyelimuti seluruh rangkaian acara yang diawali dengan tahlil dan doa bersama. Kegiatan ini merupakan wujud syukur dan harapan warga akan keselamatan serta keberkahan di bulan Ruwah.
Kepungan Ruwah merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan sebagai upaya melestarikan budaya leluhur. Tradisi ini juga dikenal sebagai Ruwahan atau Nyadran, dilaksanakan setiap bulan Sya'ban (Ruwah) menjelang bulan Ramadhan dengan tujuan mendoakan arwah leluhur, orang tua, serta kerabat yang telah meninggal dunia.
Rangkaian tradisi ini antara lain kenduri (doa bersama), ziarah kubur, dan kepungan berbagi makanan seperti apem, ketan, serta kolak. Simbolisasi dari kegiatan ini adalah permohonan maaf dan sedekah. Tradisi Kepungan Ruwah tidak hanya dilaksanakan di Selo Barat, tetapi juga di berbagai padukuhan di seluruh Kelurahan Hargorejo, masing-masing dengan keunikan adat dan tata cara tersendiri.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, kepungan Ruwah juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. Semangat kebersamaan dan gotong royong tercermin dari kebiasaan membawa makanan dari rumah masing-masing dan berkumpul bersama. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dengan terselenggaranya acara ini, warga Padukuhan Selo Barat berharap tradisi kepungan Ruwah dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang, sehingga nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap terjaga.
Penulis : Ajru F.
Sumber : Tri W.
Editor : Fitriana